Selasa, 14 Mei 2013

Berpikir....(8)

Sepertinya hari ini saya sedang menulis apa yang sering terlintas di beberapa hari ini.

Sebenarnya ini hal ini pernah saya lakukan sekitar beberapa tahun yang lalu, dan sudah tidak pernah saya lakukan lagi, dan setibanya saya mulai melakukan hal ini lagi bulan-bulan penghujung.
Di satu sisi, saya nyaman paling tidak saya punya gambaran tentang mood saya yang sering merasa tidak begitu baik, di beberapa masa tertentu.
Mungkin seperti ini, saya merasakan bangga atas rasa takut yang saya timbun, dan saya takut terhadap kebanggaan yang  menimbulkan kebingunan ini.

Entahlah saya merasa tulisan ketiga ini cukup kabur.

Sebelum saya menulis ini, lagi-lagi saya melakukan tes bipolar secara online. Cukup rutin setidaknya sebulan sekali.Dan dari setiap hasil yang saya dapat selalu sama: kemungkinan besar mengalami sindrom bipolar. Muncul rasa bangga ketika saya merasa apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, apa yang saya nikmati, ada di beberapa opsi pertanyaan.

Sugesti itu selalu lebih berhasil. Dan lingkungan adalah uterus yang baik untuk menghasilkan individu yang luar biasa. Lingkungan keluarga dan kecintaannya yang bergejolak di dalamnya.

Terlahir sebagai anak keempat, dengan masa kecil yang biasa-biasa saja.
Menjadi anak bungsu dapat menikmati kesukaan.
Mamak selalu bercerita betapa tidak menyenangkan masa kecil kakak ketiga saya. Ya, saya tahu.
Mamak selalu bercerita bahwa Bapakpun sempat tidak mengenali kakak ketiga saya sewaktu lahir. Ya, saya tahu.
Terkadang harus beberapa hal pedih apalagi yang harus saya dengar tentang kakak saya.
Tapi saya tidak bisa menyalahkan ketika hidup yang dibuat oleh Mamak selayaknya perbandingan.

Saya ingin sekali menyalahkan masa kecil saya yang penuh perbandingan dengan kakak saya.
Saya masih ingat sepertinya saya pernah menggambar seekor anak anjing yang menangis di buku matematika saya, saking depresinya.
Saya berusaha mendapatkan prestasi yang sama seperti kakak saya.
Anda tahu kan, betapa susahnya memiliki perasaan bahwa saudara Anda selalu rangking juara umum di sekolah, selalu mendapat beasiswa, selalu dan selalu dan selalu, dan selalu...dan tersisalah Anda yang ketika Anda mendapat juara sekalipun, itu tidak akan berbekas sekali di sejarah.
Sejak di bangku TK, saya sudah membentuk karakter saya yang tidak mencintai kompetisi, ketika saya tidak menginginkannya.

Saya sangat beruntung mempunyai kakak yang baik, cerdas, dan cantik. Dan sekarang dia dokter. Dia tidak lebih dari orang yang sudah berhasil membuat karakter-karakter yang begitu spesial di dalam otak saya.

Saya camkan, saya pintar. Ini sugesti saya, tapi ini akan selalu terpatahkan karena saya selalu merusak karakter untuk rendah hati, dan kenyamanan, dan kesamaan level, dan juara.

Saya tidak suka dibandingkan dengan apapun, karena itu saya juga tidak suka membandingkan orang. Jangan memberikan ekspektasi yang begitu mewah kepada saya, karena saya hanya akan sakit hati jika apa yang sudah saya lakukan se-mewah pikiran Anda, selalu akan tampak tidak begitu baik di mata Anda.

Terkadang saya begitu patah hati, ketika Mamak lebih sering dekat dengan kakak saya yang ketiga. Tapi itu tidak menimbulkan rasa 'seharusnya saya'. Tapi apa tidak lelah mendengar hal yang dibanggakan oleh orang yang Anda perhitungkan kehadirannya?

Hidup saya, dan karakter saya, terbentuk dari sugesti dan perbandingan. Ya, saya tahu kenikmatan masa kecil yang saya dapati lebih baik dan lebih bagus dari kakak saya. Dan kemungkinan juga karena saya kurang begitu religius seperti Anda, maka saya memilih untuk menumpuk kekecewaan saya di dalam otak.

Saya jarang berdoa. Kakak saya bahkan selalu aktif kegiatan keagamaan sedari SMP.
Saya jarang mengucap syukur. Kakak saya bahkan selalu rajin saat teduh.

Anda tahu, selain karena perbandingan-perbandingan yang memuakkan itu, saya terpacu melakukan yang terbaik juga untuk nilai akademis saya. Saya juga selalu mendapat nilai baik, saya bisa mendapat PMDK seperti kakak saya, dan saya selalu menggambar lebih baik dari dia.
Saya selalu bisa lebih baik dari dia, di belakang layar. Dan dia memang baik, dan layar selalu berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar