Minggu, 19 Mei 2013

Menulis...(10)

Tiba-tiba saya ingin menulis tentang salah seorang teman kerja Mamaku yang kelakuannya yang begtiu membekas di ingatanku. Sebut saja namanya, Tante Sri.
Dulu aku selalu berpikiran seperti ini: perempuan yang bernama Sri pastilah cantik, pastilah manis, karena waktu itu aku selalu membayangkan perempuan yang bernama Sri itu seperti yang digambarkan di buku Bahasa Indonesia sewaktu aku sekolah dasar dulu.

Iya, saya membicarakan Dewi Sri yang begitu rupawan, dermawan, dan baik hati itu. Tapi sejak saya melihat kelakuan dan terbiasa mendengar celotehan Tante Sri yang tidak bermutu ini, maka bayangan saya itu perlahan kabur. Terkadang nama yang indah tidak menjamin seindahnya kelakuannya. Ya, terbukti saat inipun saya masih membenci nama ini.

Mamaku bekerja di sebuah puskesmas. Mamaku adalah seorang minoritas dan saya bangga sekalipun tidak nyaman karena itu.
Perasaan ini seperti aneh, dan kurang ajar dalam waktu yang bersamaan.
Saya merasa Mamaku sering mendapat diskriminasi, mendengar cerita-ceritanya sepulang dari bekerja. Saya ingat betul Mamaku masih begitu nyaman bekerja ketika masih jaman kepiawaian dokter Gema, dokter Susi dan dokter Lili. Okelah dr. Susi dan dr.Lili memiliki keyakinan yang sama seperti Mamaku, tapi tidak ada hal yang aneh menurut dr.Gema yang jelas-jelas dia perempuan muslimah pertama yang baik, menurutku.

Bahkan beliau lebih baik dari tetanggaku.
Dan dia juga menjadi salah satu alasan mengapa menjadi dokter itu keren.

Kemudian saya mengenal sosok perempuan yang menjadi topik tulisan saya ini. Dia cantik, cukup. Putih. Tapi tidak menyenangkan.
Perempuan ini selalu berkata hal yang tidak baik tentang kelakuan bapak saya. Sewaktu itu, bapak saya cukup sering diluar kota karena bekerja.

Dia sering menggoda kalau-kalau bapak melakukan perbuatan yang tidak-tidak ketika tidak bersama dengan Mama. Itu menyebalkan, dan saya hanya bisa mencercanya dalam hati.

Ketika saya masih berpakaian merah putih sampai akhirnya ke bangku sekolah menengah pertama, dia selalu berbuat demikian. Awalnya saya selalu berpikir dia hanya bercanda, tapi bercandanya sudah keterlaluan.

Tidak menyenangkan. Saya hanya bisa menimpali dengan berkata itu tidak terjadi, dan ketakutan itu sungguh beralasan.

Ketika akhirnya Anda tahu hal pahit itu bisa terjadi, saya merasa dialah pembuat keonaran sebenarnya. Sungguh tidak menyenangkan melihat orang yang Anda kenal menangis bukan?

Demi apapun, saya berdoa agar kehidupan rumah tangga juga mengalami kesulitan yang lebih luar biasa dari yang bisa saya rencanakan untuk perempuan ini. Cukup sering juga dia berkata yang 'terlalu manis' sehingga terdengar pahit untuk Mamaku. Tapi yang terakhir saya dengar dia punya cukup masalah dengan suaminya.

Baguslah. Seandainya ada seseorang yang bisa berkata lebih sadis daripada saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar