Buku pertama yang diperkenalkan oleh bapak saya adalah Alkitab dan buku Strategi Berperang- Sun Tzu. Saya bisa bilang, dua buku tersebut adalah buku yang paling complicated menurut saya.
Buku-buku itu belum menarik hati saya karena isinya hanya berupa tulisan saja.

Gambar 1. Alkitab pertama saya belum ada Kidung Jemaatnya
Gambar 2. Salah satu penampakan front cover The Art of War

Gambar 3 dan 4. Ini juga salah satu buku yang dikoleksi sama bapakku. Naksir gara-gara gambarnya.
A. Iri Terhadap Buku
Untuk ukuran anak seusia saya, buku-buku dengan gambar menarik jauhlah lebih menyenangkan. Dan mungkin bapak saya cukup iba melihat saya dan kakak saya kurang memiliki inisiatif membaca, akhirnya bapak saya menambah varian buku dalam lemarinya. Tidak hanya buku, tapi juga bacaan seperti Gatra, Bobo, Intisari, novel-novel jaman kerajaan kuno, ilustrasi tentang adat istiadat dan kultur tertentu, buku-buku seputar agama, politik, buku daerah bahkan sampai buku memasak untuk Mama saya.
Walaupun sudah cukup banyak buku yang diusahakan dipersiapkan oleh bapak saya, tetap saja passion saya dalam mencintai buku belum ada. Menurut saya, buku-buku yang saya temui itu terlalu berat untuk saya pahami. Ditambah buku-buku pelajaran yang harus saya bawa tiap hari ke sekolah, sama tidak menariknya. Karena itu sewaktu pulang sekolah, saya sering mencuri waktu untuk pergi ke salah satu toko buku yang letaknya bersebrangan dengan kantor Mama saya. Mama saya sudah tahu kemana saya pergi kalau pulang tidak tempat pada waktunya. Distulah rasa iri saya selalu timbul setelah melihat hamparan buku-buku disana yang begitu banyak, begitu cantik, begitu menawan tapi tidak bisa saya miliki karena masih dibungkus plastik.
Gambar 5 dan 6. Buku-buku ini yang bikin saya rajin ke toko buku mahal itu. Harganya mahal juga loh.
B. Ketika Perpustakaan Menjadi Tempat Persembunyian
Disinilah letak pertemuan saya dengan perpustakaan sekolah. SMP dan SMA saya itu satu gedung. Saya sudah tahu ada perpustakaan yang disiapkan sekolah, tapi waktu itu seorang penjaganya lumayan strict. Tidak ada ramahnya sama sekali. Buku-bukunya juga masih buku pelajaran, buku cerita rakyat dan novel-novel kerajaan. Ditambah lokasinya yang cukup jauh dari kelas ( SMP di lantai 4 sedangkan perpustakaan di lantai 2, sebelahan sama kantor guru pula .___.'' ) Peraturannya apalagi yang buat saya cuman bisa tersenyum pahit. Ada jam tertentu yang membuat perpustakaan boleh dikunjungi, bahkan ada pembagian jadwal siswa SMP dan siswa SMA.
Menurut saya itu tidak adil. Apalagi untuk murid yang sering dihukum keluar dari kelas seperti saya, saya harus kabur kemana lagi?
Karena itu beberapa semester saya menjadi siswa SMP tidak pernah menginjakkan kaki ke perpustakaan. Bawaannya males kalau harus lewat kantor guru, ditambah penjaganya yang pembawaanya tidak menyenangkannya itu. Tapi curi-curi waktu ke toko buku yang super mahal itu masih sering saya lakukan sepulang sekolah, walau hanya bisa melihat front cover-nya saja.
Setelah saya masuk ke tingkat Sekolah Menengah Atas, saya akhirnya ngetes buat lewat depan kantor guru SMP. Toh, saya sudah SMA. Mana mungkin dimarah-marahin lagi karena main jumpalitan di beranda belakang kelas, atau tidak mengikuti ibadah chapel setiap hari jumat, tidak menggunakan atribut sekolah, atau karena sengaja tidak mengikuti kelas dan kabur ke kantin. Setidaknya saya tidak mengurangi melakukan pelanggaran-pelanggaran seperti itu ketika sudah di bangku SMA.
Lewat kantor guru SMP antara deg-degan dan senang. Deg-degan takut ditegur dan perasaan senang lihat kondisi perpustakaan. Tiba-tiba saja dapat ilham ingin mengunjungi perpustakaan. Dan ternyata, benar seperti rumor yang beredar. Pertama, kondisi perpustakaan semakin baik dan diperluas. Buku-bukunya juga semakin bervariasi, bahkan sudah ada yang ditaruh di lemari-lemari kaca. Sudah ada bilik-bilik khusus untuk membaca pribadi. Kipasnya sudah ditambah. Lantainya terbuat dari keramik. Sudah ada tergantung beberapa peta- termasuk peta dunia, dan wajah-wajah pahlawan diperbanyak. Meja penjaganya juga sudah dipindah, dan yang pasti penjaganya sudah berganti wajah. Hhahahha, berganti wajah dan berganti kepribadian juga. Peraturan tentang pembagian kunjungan ke perpustakaan sih masih berlaku, tapi yang penting saya kan sudah SMA.
Akhirnya.
Perpustakaan waktu jamanku SMA itu sudah cukup nyaman, menurutku. Jam bukanya juga ditambah menjadi jam 5 sore. Itu fix jam usai jenis kegiatan apapun di lingkungan sekolah, termasuk yang penjual-penjual makanan di kantin, les tambahan dan olahraga. Seperti biasa, di setiap sekolah pasti ada sejarah "penghuni" lainnya kan..
Walaupun saya baru tahu kondisi terbaru tentang perpustakaan sekolah ketika saya sudah kelas 2 SMA, yang penting saya masih mencoba untuk membaca buku lebih banyak. Di perpustakaan sekolah itu juga saya menemukan kecintaan saya terhadap Space Invaders, ilustrasi-ilustrasi tentang sains, komik Justice League, novel Sherlock Holmes, bahkan komik-komik genre slash, horror, dan mysterious cases semacamnya sangat menarik minat saya.. Kalau mau belajar tentang anggota tubuh, anggota tata surya, biota laut, bukannya tidak menarik kalau tidak dalam bentuk visualisasi? Makanya dulu, selain ingin jadi dokter (biasa...cita-cita anak kecil..) , saya sempat berkeinginan jadi detektif atau astronot.
Gambar 7 dan 8. Buku ini cuman ada di lemari kaca perpus. Tidak hanya space and planets, tapi juga membahas anggota tubuh, laut dan isinys, benda-benda laboratorium, dan banyak lagi. Ada satu lagi, sudah saya gugling tapi ga nemu juga gambar cover-nya. Yang satu lagi, ilustrasinya seperti komik Karangan orang Jepang. Buku yang di lemari perpus cantik-cantik banget pokoknya. Baru ngeh pas gugling ternyata targetting reader-nya buat anak SD.
Saya ga bilang kalau saya yang gila baca buku, tapi saya hanya penasaran tentang isi halaman selanjutnya. Gambar-gambar yang luar biasa keren menjadi salah satu pemicu saya buat cinta sama buku tersebut. Cukup tidak adil kalau saya hanya suka buku-buku bergambar atau buku-buku kesukaan saya saja, tapi saya hanya masih dalam tahap membaca buku lebih banyak. Dan sensasi membaca buku itu lebih mengena kalau bukunya bersifat fisik. Membaca itu bikin kita bisa lebih cerdas sekian persen dari orang-orang loh. Sesekali sombong abis baca buku, gapapa lah ya~~
Kepingin sih buat nyumbangin buku, tapi belum siap juga buku-bukunya rusak :(
eh? sembunyi di perpus? hihi, nakal yaaa
BalasHapus