Minggu, 27 Oktober 2013

Menulis...(25)

Ketika saya menulis paragraf-paragraf ini, mood saya sedang tidak beres. Selalu seperti ini, dan saya ga tahu apa penyebabnya. Tadinya saya pikir otak saya yang malas untuk mencari tahu, saking mood saya memang agak mendung dari semalam.

Seingat saya, saya berdoa dulu sebelum tidur. Tapi saya tidak bisa memastikan apakah tidur saya nyaman atau tidak, saya tidak ingat, tapi yang pasti saya merasa bangun dengan tubuh yang begitu capek, berat dan gelisah. Benar saja, sudah seharian ini saya melakukan perenggangan leher, dan ketika di gereja tadi, kaki saya bergetar ringan. Tadinya saya pikir apa saya belum sarapan, tidak..saya sudah sarapan.

Sejak semalam, saya sedang merasa tidak ingin tersenyum, tidak ingin bercakap dengan orang. Iya, tetap aja ada interaksi saya dengan beberapa orang, dan itu tubuh saya yang melakukan basa-basi itu.
Sejujurnya saya ga tau apa yang membuat saya kesal, dengan alasan dan cerita yang pasti.
Kemudian saya teringat ada dua perlakuan yang saya anggap tidak menyenangkan yang terjadi pada saya hari ini. Pertama, ada seorang pemuda asing yang duduk di sebelah saya ketika gereja. Saya sungguh mengatakan ini dalam hati saya, bahkan ini saya gumamkan setelah saya saat teduh, setelah ibadah sudah mulai sekitar 5 menit. Itu cowok kamvret sekamvretnya kamvret. Ketika memulai ibadah, WL mempersilakan setiap orang menyalami orang-orang di dekatnya, dan si cowok itu dengan KAMVRET bilang, "Aduh, kalo gue udah bosen banget salam-salaman kayak gini!", ke teman sebelahnya. Itu timingnya pas banget pas saya mau salaman ke dia.
Anjing banget! Suer! Mungkin itulah yang menyebabkan ibadah saya hari ini bahkan lebih dari kata buruk- sangat buruk. Mungkin ini ibadah yang paling membuat saya hilang semangat, dan mungkin orang ini juga tidak tahu diri, tidak tahu adat. Dan saya juga terlahir dengan sentimental negatif yang begitu besar, langsung menolak semua hal baik dan mengumpulkan hal jahat dengan segera. Mood saya benar-benar kacau sampai akhir ibadah. Saya benar-benar menjaga jarak dengannya, dan ibadah kali ini berakhir menjadi sekedar formalitas lagi.
Ketika sesi salam berkat, saya benar-benar tidak menganggap cowok itu dan temannya ada di sebelah saya. Jika mereka merasa tersinggung, silahkan. Mood saya benar-benar menolak semua hal di gereja, tapi saya tidak bisa pulang karena saya masih menunggu apakah Tuhan mengetuk mood saya sampai akhir gereja. Tidak. Saya merasa saya membiarkan Iblis yang merasuk, Iblis yang menjaga jarak ke semua hal yang ada di gereja saat itu. Tapi saya tidak bisa pulang. Belum bisa pulang.

Kemudian, yah mungkin ini sepele. Ini soal naek angkot. Dia memanfaatkan kesempatan mengambil lebih harga ongkos dari biasanya. Haruskah saya teriak di kuping dia kalo saya bukan orang berpunya?! Seribu itu udah cukup beli kerupuk buat makan siang!

Kemudian internet di kost saya on-off. Kamvret diatas kamvret. Hal ini selalu terjadi ketika saya baru masuk kamar, baru pulang ntah dari mana, iya saya merasa sangat kamvret jika harus tertanggu dengan icon internet di pojok dekstop saya jika ada tanda seru kuning, atau silang, atau bergonta-ganti dengan dua ikon tersebut. Saya merasa ada yang men-cut jaringan saya, atau si bapak kost emang kamvret banget pengen ngerampok bocah2 dengan nyuruh patungan duit beli hub padahal itu udah tanggung jawab dia. Monyet abis nih orang! Matre! Minta gue gorok!

Ahh saya masih punya dua hal sepele lainnya yang baru saja lagi terjadi, menambah list kekesalan yang mengubah mood saya hari ini. Entah kenapa saya juga tidak memiliki kemauan untuk mengampuni mereka. Entah. Sepele, tapi benar saya masih sangat dendam dengan 4 orang dengan 4 kisah berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar