Saya ga akan mengakui bahwa saya placebo tentang manic depression. Saya bahkan ga familiar istilah itu ketika di bangku sekolah.
Anda tau apa yang membuat saya kesal hari ini?
Orang tua saya menelepon saya, menanyakan kabar dan menanyakan apakah saya berniat pulang untuk merayakan Natal atau Tahun Baru bersama.
Ini pertanyaan gila. Gila.
Mereka tidak tahu betapa sering saya berpikir untuk pulang ke rumah. Betapa saya iri melihat teman-teman saya bisa dan selalu dapat pulang ke rumahnya. Atau setidaknya ada yang mengunjungi mereka.
Tiba-tiba saya merasa sakit hati.
Saya teringat Natal tahun lalu. Tahun lalu, saya mendapat kesempatan untuk bisa pulang merayakan Natal bersama. Jadwal ujian memiliki rentang yang cukup jauh, dan sekiranya menurut hitungan saya, saya bisa pulang ke rumah.
Saya menanyakan hal itu kepada keluarga saya. Kakak saya bilang saya tak usah pulang. Katanya liburannya tanggung.
Entah mengapa saat itu, saya merasa sangat sakit hati sekali mendengar kalimatnya.
Saya ingat sekali, saya menelponnya ketika saya di student center.
Padahal saya begitu bahagia dapat kesempatan untuk pulang.
Saya jelas sakit hati sekali dengan kalimat itu.
Lebih tambah sakit hati, karena Mama mengatakan hal yang sama. Katanya sayang uang.
Susah untuk melupakan kalimat itu.
Sejak saat itu saya seperti menghukum diri saya sendiri. Saya seperti dilarang untuk pulang. Saya tidak akan pernah mau pulang untuk merayakan Natal ataupun Tahun Baru, sejak saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar