Aku membutuhkanmu.
Baiklah, aku ingin memberitahu sesuatu.
Aku ga bisa ngoding.
Orang-orang di planet saturnus pun tau hal ini.
Kenapa?
Kenapa, nyet?
Ngapain lo masuk di jurusan pemograman komputer kalo ga bisa ngoding?
Blog, lo tau..kenapa gue bisa masuk, memilih masuk, memilih bertahan, memilih memaksakan ketololan-
Ga. Gue ga tau.
Ah nyet! Lupa lagi lo!
Yahh, lo kagak pernah cerita. Mana bisa gue tau isi otak lo, Nyet..
Ok gue ceritain dari awal. Sangat awal.
Jangankan bermimpi, atau berimajinasi sekalipun, bahkan mengenal istilah 'pemograman komputer' pun aku buta dan tuli. BUTA dan TULI. Sangat buta dan sangat tuli.
Aku mengenal apa itu komputer, bagaimana itu komputer, dari game.
Sebagai manusia dengan sistem kerja otak yang mengandalkan visual dan listening, game adalah hal pertama yang membuat aku jatuh cinta dengan komputer. Aku bisa bahagia. Aku merasa keren karena bermain game. Hingga tercetus pemikiran 'AKU MAU BIKIN GAME' dan 'GIMANA SIH BIKIN GAME ITU?'
But! Ini hanya pemikiran, bukan cita-cita.
Sepanjang gue hidup, ga pernah terlintas dipikiran gue untuk jadi programmer komputer.
Gue hanyalah penikmat game semata.
Gue hanya konsumer komputer semata.
Gue ga pernah kepikiran dan ga pernah penasaran gimana cara kerja komputer itu.
Sebagai manusia dengan prinsip OUTPUT LEARNER, gue harus melihat dulu hasil sesuatu dari suatu percobaan, supaya aku bisa mencobanya.
Aku harus melihat,
baru aku terpesona,
baru aku bisa menanyakan apakah otakku bisa melakukan hal itu,
jika bisa, aku akan mengumpulkan kepercayaan diriku supaya 'aku-aku' yang lain terinspirasi juga dan mau membantuku,
setelah mereka terinspirasi, baru aku merasa butuh untuk menguasai informasi itu,
baru informasi itu aku ijinkan untuk disimpan ke otakku.
Setelah semua informasi masuk dan tersimpan di otakku, aku pastikan kepadamu, aku bahkan bisa melakukan lebih baik dari siapapun.
Terus, hubungan sama ngoding itu?Aku menerima ngoding, bukan karena aku terpesona, TAPI KARENA EGO.
Dari kecil, tidak ada seorangpun yang memuji keberhasilanku terhadap sesuatu. Tidak ada yang memberiku support sebelum melakukan sesuatu. Dan tidak ada pujian jika aku bisa melakukan sesuatu.
Ego, yang membuatku- membuat aku yang buta dan tuli ngoding ini, memilih untuk masuk dan bertahan di jurusan pemogram seperti ini.
Kau tau kan, blog, kakakku berada di jurusan Kedokteran. Aku senang dia masuk karena aku tau dia memang ingin masuk ke jurusan tersebut dan dia memang mampu.
Tapi sebagai orang yang terlahir dengan settingan otak seperti saya ini, saya merasa sangat 'bangsat' terlahir dengan posisi sebagai adiknya.
"Adik harus bisa sesukses atau lebih sukses dari kakaknya."
"Anak harus bisa serata atau harusnya, lebih tinggi dari orangtuanya."
Hidup dibawah bayang2 'mimpi orang tua' itu saja sudah memberatkan hati, sekarang nasibku makin apes dengan hidup dibawah bayang2 kakak seorang dokter.
Aku tak bodoh, blog. Seribu persen aku yakinkan padamu, aku tidak bodoh. Hanya yang sering membuatku terlihat bodoh dan ikutan berpikir bahwa aku bodoh adalah 'kakakku'.
Karakterku dan karakternya berbeda.
Aku tomboy, dia sangat feminim.
Aku lebih suka main game, dia lebih suka membantu membersihkan rumah.
Aku lebih suka menggambar dan mewarnai, dia lebih suka mengerjakan hitung-hitungan.
Aku lebih suka berdiam di beranda samping kelas, dia lebih suka berkumpul dengan teman-temannya di ruangan OSIS.
Aku lebih duduk diperpus baca buku ensiklopedi, dia lebih suka membuat kelompok belajar.
Aku sangat tidak agamis, dan dia sangat sangat sangat agamis.
Aku suka musik rock/metal, dia suka musik pop.
Aku suka baca komik, dia suka baca Alkitab.
Aku tidak populer- KARENA MEMANG MEMILIH UNTUK TIDAK INGIN JADI POPULER, sedangkan dia memang/sangat populer sebagai student model, langganan beasiswa, langganan jadi pemandu upacara, blabla.
Aku hanya..... carefree.
Aku disetting beda dengannya. Beda karakter, beda nasib. Beda semua.
AKU....juga bisa mengerjakan soal matematika, sama seperti yg dia kerjakan.
AKU...juga cakap berbahasa Inggris, sama seperti dia.
AKU...juga jadi anggota upacara, tapi aku memilih untuk tidak jadi pembawa bendera seperti dia, tapi aku memilih dengan kebisaanku, jadi dirigen.
AKU sebenarnya tak suka makan sayur, tapi hidup dengan mendengar bahwa mama begitu memujanya hanya karena dia suka makan sayur, akupun merasa 'Aku harus bisa juga makan sayur'. Konyol bukan settingan otakku? Konyol! Konyol!! Ini adalah salah satu dari sekian juta alasan aku membenci Mamaku.
Buku apa yang dia baca, juga aku baca. Tapi aku yakinkan, dia tidak membaca buku apa yang sudah aku baca.
Hei Manusia-Manusia, jangan bandingkan kami karena saya ini sedang tidak menawarkan barang/jasa apapun sehingga saya bisa diperbandingkan dengan sesuatu!!
Hidup itu perbandingan, Cha. Hidup itu kompetisi!
Kau pikir aku tak tau itu? Aku sangat tau! Tapi kalau aku merasa sedang tidak ingin ikut kompetisi, apa kau berhak memasukkan aku secara sewenang-wenang, dalam list peserta? Aku tau kompetisi-kompetisi apa saja yang sudah pasti aku tak bisa, maka jangan masukkan aku. Aku tau kompetisi-kompetisi apa yang membutuhkan keahlianku, maka aku sendiri yang menawarkan diri.
Jelas aku akan kalah.
Jelas aku merasa terhina jika kalah.
HANYA....jangan bandingkan aku dengan yang lain.
AKU HANYA MEMBENCI berada dibawah bayang2nya.
Sepanjang kehidupan bersekolah, TERUS DIBANDINGKAN DENGAN DIA.
Bersekolah ditempat yang sama dengannya sangat menjengkelkan.
OMONGAN GURU.
OMONGAN KELUARGA BESAR.
JANGAN GOSIPKAN AKU DIBELAKANGKU. AKU SAKIT HATI.
Itu melelahkan, masbro, mbakbro.
Kak Grace begini, Kak Grace begitu.
Kak Grace udah gini, udah gitu.
Kok kamu gini, kok kamu gitu.
Temenmu mana, Cha?
Kok ga ikutan kayak kakakmu, Cha?
Kalo aku sedang up dengan teman-temanku, pasti ada saja guru yang langsung membandingkan dengan kakakku yang tidak banyak berulah. Padahal dosaku hanya melawak didepan orang-orang yang menerimaku, memberikan hiburan didepan orang-orang menerimaku sebagai tanda terima kasih mereka mau menerimaku, dan sekali lagi perbandingan ini yang kuterima.
Satu lagi, orang-orang Batak itu berisik. Berisik. Berisik. Berisik. Berisik. Dan super duper tukang ngurusin urusan orang. Itu sangat sangat sangat menjengkelkan.
Tau bagaimana rasanya hidup bersama dengan mindset komunitas Batak dimana 'Dua profesi yang paling dibanggakan oleh orang Batak adalah anaknya bisa jadi dokter atau polisi. Kalo ga bisa keduanya, berarti mantunya yang dokter ato polisi."
INI KAMPRET.
Ini mindset kampret.
Itu yang membuat aku benci dengan dua profesi ini.
Aku serius. Aku benci dengan dua profesi ini, sampai sekarang.
Aku tidak pernah bercita-cita jadi dokter atau jadi polisi.
Tidak pernah dan memang tidak mau.
Karena egolah, yang membuat aku berpikir aku harus mencari sesuatu yang lain- sesuatu yang lebih keren, dari jurusan Kedokteran, yang membuat supaya aku bisa memiliki posisi di mata kedua orangtuaku.
Aku seperti merasa punya beban menggantikan Abangku.
Lapisan-lapisan ego sudah membungkus otakku. Mereka seperti tato, dan akhirnya ku tato.
Otak saya buat ngoding emang disetting super super lambat dan cepat panas pula.
Miris sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar