Minggu, 15 Desember 2013

Berpikir....(27)

Akhir-akhir saya ngerasa tiap apapun tulisan saya akan mengundang sentimen terhadap orang yang membacanya. Yah terlihat dari salah satu jejaring sosial yang saya buat, Twitter. I love this media. It helps me become 'normal'. Seperti yang sering gue keluhkan selama ini, Twitter adalah tempat mengeluarkan unek-unek saya seenak jidat.

Jadi begini, pertama prinsip yang saya pahami, Twitter adalah microblog yang menyediakan fitur 'kebebasan berbicara'. Mungkin karena saya bukan public figure, jadi saya bisa mengatakan bahwa FA itu tolol. Kekurangan beliau adalah tujuan beliau bukan mengkritisi sesuatu, tapi hanya menghakimi sesuatu. Terkadang sayapun menghakimi orang lewat tulisan saya, tapi menghakimi orang yang saya kenal, yang saya tahu, dan....orang itu merugikan saya.
Misal gini, saya suka Kpop. Suka pake banget. Saya tidak mengkritisi pilihan hidup mereka untuk melakukan operasi plastik. Itu terserah mereka. Toh saya menikmati hasil 'wajah' baru mereka. Namun yang saya tidak suka, latar belakang yang mendasarinya dan kenyataan setelahnya. Berbekal artikel yang saya baca dan saya pahami selama ini, mereka terlalu membanggakan operasi plastik mereka. Mereka jadi terlalu mengagungkan kecantikan fisik, kecantikan luar yang akibatnya merendahkan orang yang mereka anggap tidak secantik mereka. Itu titik dimana saya ingin menghakimi mereka. Saya juga sedih bahwa pada kenyataan yang selalu mereka pegang, orang yang berkulit gelap itu selalu tampak rendah bagi mereka. Give up banget pas bacanya.

Saya akui saya suka sekali mengeluarkan kalimat yang memiliki sentimen negatif. Itulah mengapa saya berpegang teguh sama skripsi impian saya ini (hahah, saya ga jadi bikin aplikasi pendeteksi emosi pada teks, ntar lama lulusnya gue .__.) Terkadang kalimat yang saya bikin di media sosial itu....yah sekedar nulis aja. Nulis doang, tapi kadang bukan itu emosi yang lagi gue alami. Ya pastilah pemilihan kata-kata yang saya gunakan ga pantas, kurang begitu baik untuk dibaca, terlalu jahat, sarkasme, yaaaah apalah sehingga orang jadi ga tau makna sebenarnya dari kalimat saya itu.
Saya ga masalah orang galau di Twitter, ya cukup ga dilihat aja kan. Di-mute. Tapi terkadang, saya sering banget nemu kondisi pas saya ngepublish tweet yang 'ndasmu loh, Cha...', banyak dari mereka yang memberi kode. Satu hal yang gue tangkep: follower gue terlalu perasa. Terlalu sensitif. Terlalu sok bagus. Kalo misalnya gue ada 'ngerasa' jleeeep ama tweet orang, yang membuat gue berpikir 'Eh...dia ngomongin gue nih?!', ohh no worry bray. Gue log off dari tweet dan maen ke tempat laen: BLOG.

Tapi kembali lagi. Sepertinya kebiasaan baru gue ini dianggap buruk, bahkan menurut gue sendiri, cara ngetwit gue emang merugikan gue sendiri. Tapi plis...ente ga diposisi ane. Kalo seandainya ngobrol ama Tuhan bisa menyelesaikan masalah, ga ada kasus bunuh diri. Itulah tugas gue: lo harus tau bagaimana cara pandang orang semacam gue terhadap kalian dan terhadap dunia yang gue tempati. Jangan hanya gue yang tahu kalo gue kecewa terhadap orang di sekitar gue. Ada yang dikasih otak, tapi ga make otaknya dengan bijak. Ada yang dikasih hati, tapi kadang malah ga punya hati. Ga brilliant. Mending itu organ tubuhnya didonasiin aja.

Akhirnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada blog. Lagi2 saya sangat berterimakasih. Saya ga berharap blog ini ditemukan oleh siapapun- kecuali dia lagi ngenes dan terdampar di blog gue. Blog ini penuh keluh kesah, amarah, subyektfitas, kekecewaan, rasa ingin mati, gemas terhadap dunia, dan resiko hampir kehilangan iman. Saya jadi mikir dua kali kalo mau ngetwit, orang banyak banget yang salah paham ama tulisan gue. Lah udah tau gue juga kadang suka iseng: 'Show the emotion without any meaning. Hide the real feeling without any burden'
Orang cukup sekedar tahu saya sedang tidak baik, tanpa dia ikut campur atau bersikap bijak. Yakinlah. Pernah nyicip ngomong sama orang2 yang (sedang memiliki) emosi? Dimarahin balik? Ato dicuekin? Yah emang cuman itu opsinya. Api jangan ditambah minyak, apalagi percikan garam. Orang dengan hypomaniac kayak gue, bisa aja kesulut lebih besar dari situ. Tapi terkadang, kami ga pernah tau kapan dan mengapanya. Hanya-sedang-ingin-begitu-dan-tiba tiba.

Iya, akhirnya saya sering menulis di blog saja. Biarlah blog ini yang gue 'marah2in'. Biarlah cuman blog ini yang tau apa yang gue rasain, apa yang gue alami. Kedukaan apa yang gue terima, kesenangan apa yang membuat gue bisa bahagia. Belajar untuk tidak menimbulkan 'chaos'. Okeh, ga lagi2 ngomong sama orang2 bodoh kayak mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar