Senin, 06 Januari 2014

Berpikir...(29)

Hai blog, lama ga bertemu. Sepertinya memang aku sombong jika aku sedang bahagia dan hanya mendatangimu ketika aku sedih.

Blog..kapan ya aku terakhir kesini? Aku merasa kebahagiaanku yang kemarin sudah begitu lama terjadi, dan cukup lama, dan aku baru ingin kesini..sekarang.
Maafkan aku.

Blog, i feel so depressed, again.
Tadi aku lagi maen ke kostnya mbak Ifa bareng mbak Icha Bali jg. Mungkin dari sini penyebab awalnya.
Mamaku menelepon menanyakan bagaimana skripsiku.
Yes, I hate hearing it. So much. Bukannya aku ga senang mereka menanyakan bagaimana perkuliahanku, tapi aku menyalahkan pribadiku yang buruk, pemikiranku yang buruk jika mereka sudah berbuat demikian. Terkadang aku capek dan sakit hati jika mereka hanya mengulang dan menyarankan hal yang menurutku AKU KURANG DI DALAMNYA. I have my own pride.
Mama masih nanya-nanya lagi kapan aku lulus, berapa mata kuliah lagi yang musti diambil, coba tanya-tanya ke orang-ke temanmu buat TA itu, ajak makan bareng kalo perlu buat minta belajar....AKU UDAH NGELAKUIN ITU DENGAN CARAKU!! Dan ketika aku udah agak sedikit malas menanggapinya, mereka langsung bilang, ya udah itulah ya, kaunya yang kuliah, kaulah yang tau bagaimana yang mau kau kerjakan..dan blahblahblah

Terkadang aku ingin sekali membenci keluargaku sendiri. Kau tau kan itu blog. Betapa banyak hal bisa buat aku kecewa, dan begitu banyak hal yang bisa aku benci.
Maksudnya, sekarang aku sedang proses. Sedang. Aku juga akan menghadapi seminar proposal. Aku takut, dan sekarang aku jadi tambah takut kalo emosiku kambuh dan merusak minatku akan semua hal yang kurancang baik.

Tapi tadi aku mendengar cerita bahwa Yoona SNSD tidak mempunyai seorang Ibu, lebih tepatnya dia dibuang Ibunya. Ahh aku merasa lebih beruntung karena tidak dibuang Ibuku, tapi kembali lagi...ahh aku tak tau mana yang lebih membuatku nyaman.

Dan tadi pas ngobrol aku keceplosan bilang bahwa aku tidak terlalu akrab dengan keluargaku. Bisa kukatakan iya. Keakraban selama ini, bukan keakraban yang kubayangkan dengan indah. Ngobrol okelah, oke. Tapi mungkin karena aku selalu mengingat apa yang orang katakan padaku, itulah mengapa aku jadi lebih sering membenci orang disekitarku, lebih suka menjadi pesimis, dan lebih sering pula aku tidak menyukai hidupku.

Tau kan cerita bagaimana aku tidak menyukai keluargaku...ahhh kemaren kakakku meneleponku. Dia kembali bertanya soal nilaiku. Aku sensitif jika ditanya soal nilai dan IPK karena aku tidak sebaik itu, orang IPKku cuman dua koma. Dia bertanya apakah masih ada nilai D, kubilang ada..ada dua matakuliah ku di semester 2 yang dapet nilai D dan jelas itu tidak bisa diulang karena itu nilai TPB. Aku menangkap penyesalan dari intonasinya, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa2.

Ahhh aku harusnya sudah tau, depresi ini akan datang lagi. Akhir-akhir ini aku mendengar lagu clubbing untuk membuat aku bahagia.

Ya kembali lagi aku harus bilang aku ga akrab dengan keluargaku. Jika harus dibilang, kamu kan dimanja waktu kecil, aku lebih memilih tidak dimanja dengan makanan ( MAKANAN YA, ORANGTUA GUE BUKAN KATEGORI YANG RAJIN BELI MAINAN) , yaa akhirnya aku tumbuh menjadi anak yang gendut karena gue selalu lari ke makanan. Tapi gue lebih memilih untuk tidak rajin membeli makanan, jika orangtuaku berhenti melakukan perbandingan untuk anak2nya.

Dengan cerita Mama dan Bapak bahwa waktu mengandung abangku, Bapakku pernah membonceng Mama dan membuatnya jatuh, itu selalu terngiang di otakku. Dan apa yang kamu pikirkan tentang kondisi abangku, benarnya adanya...iya tidak parah, dia tidak cacat fisik tapi dia sedikit memiliki kekurangan. Setiap mengingat itu, selalu aku ingin melindunginya. Melindunginya dari ucapan orang2 jahat, melindunginya dari keluarga besarku yang tidak tau diri, melindunginya dari perbandingan2, melindunginya berarti melindungi keluargaku. Melindungi keluargaku berarti melindungi harga diri keluargaku. Harga diri keluargaku adalah harga matiku.

Terus bagaimana jika aku cuman beripeka dua koma gini? Tapi ketakutan dan kekhawatiran itulah yang tumbuh dan besar bersamaku.

Dulunya aku iri, kemudian iri ini tumbuh menjadi muak melihat orang-orang yang lebih beruntung dari aku. Iya aku iri. Sangat iri. Mereka pandai berpura, mereka kampret, dan mereka yang sebenarnya lebih bodoh dari saya, pintar memaafkan kecantikan mereka untuk menjadi baik dihadapan orang. Ya kasihani saya ini.
Ahhh depresi ini..
Blog, akhir2 ini keluargaku jarang menelepon. Kau tau, aku takut keluargaku sebenarnya nun jauh disana, sudah jatuh miskin, tidak punya uang, tapi mereka masih sempat mengirimkan uang bulananku untukku yang masih kuliah ini.

Blog, saya selalu punya alibi kenapa saya harusnya mati saja. Pertama, saya ga perlu ngerjain skripsi kampret yang dosennya selalu minta perfectness itu. Aku capek. Dia terkadang menyebalkan. Kedua, aku ga perlu merepotkan keluargaku, minta ini itu, dan aku juga perlu kecewa karena ini itu. Aku ga perlu diperbandingkan oleh keluargaku juga, dan ga perlu juga aku berpura untuk memahami hati mereka. Berpura menyukai apapun yang mereka kasih kepadaku. Ketiga, aku ga perlu berpura baik di hadapan Tuhan. Jika aku ingin marah, aku hanya ingin marah,dan Tuhan harus tau kenapa aku hanya bisa memarahi hal yang sama lagi.

Aku merasa bodoh, blog. Bisa selamatkan aku lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar