Hai blog, selamat pagi. Maaf aku mengunjungimu terlalu pagi.
Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku.
Gini blog, sebelum aku ketempatmu, aku mengecek timeline salah satu akun jejaring sosialku. Logo yang berwarna biru itu.
So, I find this picture.
Kalimatnya sedikit membuatku tak nyaman. Bukanku sok feminis, tapi menurutku tulisan itu tidak sesuai dengan gambar yang dipilihnya.
Let see, itu gambar buah apel dengan kalimat 'Mengapa harus memilih untuk terbuka sedangkan tertutup jauh lebih baik'?
1. Apel dia sendiri tidak bisa 'membuka' kulitnya sendiri, DIA TIDAK MEMILIH UNTUK TERBUKA, dia butuh bantuan manusia untuk mengelupasinya.
2. Bukan aku kasar terhadap pemikiran2 semacam ini, anggap apel adalah perumpaan untuk perempuan. Keduanya tetap bisa digaplok siapapun-kapanpun-dimanapun. Kalongpun suka makan buah. Iya kan? Ada orang yang terbiasa memakan buah apel dengan kulit yang sudah dikelupasi, ada juga yang bisa memakan bersama kulitnya langsung.
3. Apel yang sudah dikelupasi itu jika dimasukkan ke lemari pendingin, dia tidak akan berubah warna seperti itu. Hanya penampilannya saja yang coklat. Yang masih berkulit utuh, memang sudah jelas tidak akan berubah warnanya. Apakah pernah mengecek apel yang dikelupasi seperti itu, bagian dalamnya ikut busuk? Tidak. Tapi who knows, kedua apel itu bisa jadi memang sudah busuk ketika ketika membelinya.
4. Apel yang berubah warna itu karena suhu kamar, dan sekarang ia diperbandingkan dengan apel yang setengah dikuliti dan full yang masih terbungkus dengan kulitnya. Who cares. Toh ketiganya akan busuk perlahan di suhu kamar. Perbedaan mereka hanya di 'keberuntungan siapa yang akan memakan mereka (jadi mereka tidak membusuk sia2) dan 'waktu membusuk lebih lama'
5. Kalau dipikir-pikir, ada beberapa jenis buah yang mengharuskan kita untuk 'membuka' kulitnya, dan kebanyakan buah yang bisa dimakan bersama kulitnya, bisa pula dimakan dengan kulitnya. So, why have to judge? Intinya kembali seberapa bermanfaatkah buah itu untuk manusia yang mengkonsumsinya.
6. The last one, hashtag #GerakanMenutupAurat bukanlah suatu kewajiban, tapi balik lagi kenyamanan diri. Saya ga akan bilang soal 'membungkus hati' dulu atau apa, karena membungkus hati bukan lagi soal kenyamanan diri, tapi kewajiban. Toh soal mendapat jodoh yang pantas, itu kembali lagi disesuaikan dengan kondisi kita sebagai 'apel'. Kalo berada di kumpulan apel yang rotten, yah bakal rotten juga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar