Hai blog, aku sengaja menulis sekarang..
bukan karena aku kangen padamu, tapi karena aku rasa menceritakannya padamu lebih baik ketimbang aku menceritakannya di media sosial.
Sejujurnya aku tak tahu hal bodoh apa yang kupikirkan saat ini. Dan, bukan salahku, hanya tiba-tiba hatiku merasakan sedikit janggal.
Blog, beberap bulan kemaren, aku benar-benar stress. Itu adalah salah satu dari down periode ku lagi. Lagi, iya lagi..yah kau taulah karakterku bagaimana. Diluar sana mungkin hanya sedikit orang yang bisa mood swing dengan alibi yang cukup absurd seperti aku.
Blog, aku tegaskan aku tidak meragukan.....
*ahh blog, kau tau apa yang kupikirkan sekarang? aku merasa aku pembohong, aku sedang mengarang cerita, tapi sebenarnya ada yang kubingungkan...aduh bagaimana aku menjelaskan isi otakku ini~~*
aku tidak meragukan Tuhan.
Tapi mungkin, lebih tepatnya, aku respect, menghargai Dia sebagai orang yang memang Empunya Kuasa.
Kemarin-kemarin aku sibuk meracau tentang ketuhanan, tidak..lebih tepatnya aku meracau soal 'iman'ku sendiri. Sounds silly, rite?
Aku menuliskan status-status aneh di akun socmedku, ketika sebelumnya aku merasakan bahwa sebelum aku terjatuh lagi dengan down periode-ku itu...aku bisa merasakan aku sedang berada di up-periode.
Kenapa? Mari kuceritakan.
Sepertinya aku memang bisa tahu kapan aku akan kambuh, tapi aku...seakan aku...merelakan fisik dan inteligensiku untuk 'kambuh'. Aku tau gejala-gejala aku akan kambuh kalo aku sedang merasa hyped.
Tiba-tiba, aku, mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang-orang di socmed itu.
Kau tau, persona lainnya tak pernah membuatku seperti itu.
Menurutku itu ga penting. Mengucapkan itu ga penting. Orang-orang itu ga penting, dan ulang tahun menurut juga bukan sesuatu yang penting. Mungkin karena aku terbentuk terlalu 'independent' dan 'feminist' yang berujung tak ada orang yang pernah mengucapkan selamat ulang tahun padaku.
Iya, aku sakit hati juga, blog.
Aku selalu berusaha mengingat dan mengucapkan selamat ulang tahun ke orang, dan orang lain tidak melakukan hal yang sama kepadaku.
Aku selalu berusaha mengingat dan memperjuangkan orang-orang yang menurutku penting dan harus kujaga, tapi orang lain tidak melakukan hal yang sama kepadaku.
Ulang tahun itu ga penting2 banget. Sejak kelas 4 SD, aku tidak terlalu suka diberi ucapan ulang tahun. Hmm, aku kurang yakin kapan aku merasa ucapan seperti itu tidak terlalu penting, yang jelas mulai kelas 4 SD aku tidak terlalu suka perayaan ulang tahun.
Aku boleh subjektif kan? Ya, aku tak suka perayaan dan ucapan ulang tahun sejak saat itu.
Kembali ke socmed itu. Kau tau, blog, seketika dalam waktu 4 hari (atau seminggu ya aku lupa) , aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman2ku yang berulang tahun krn notif dari socmed itu. Kau mengerti?! Aku melakukannya. Dan bahkan kepada orang yang sekedar kujadikan teman di socmed.
Sekedar.
Iya, beberapa orang yg pernah muncul di hidupku sewaktu di palembang, sbg teman sekolah, teman satu les, dan yg mmg pd kenyaataany aku ga deket2 bgt ama mereka, aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada mereka. Anehnya, aku tidak merasakan keanehan saat itu. Seperti, aku sedang ingin mengucapkan itu kepada mereka. Tapi saat itu, sebenarnya aku sudah mulai merasa, 'Owww ok, ini mau kambuh nih..'
Aku merasa sociopath, blog.
Aku merasa karakterku mjd buruk sejak semakin banyak orang asing yang aku sengaja ikuti di socmed.
Aku seperti harus menjadi orang senantiasa baik dan ramah depan mereka, walau sejujurnya aku harus bilang, aku yang dulupun tak sebaik itu.
Aku merasa aku yang dulu adalah seseorang yang pintar. Dan sejak mengenal socmed, aku merasa aku semakin buruk.
Moodku tak terkontrol. Bisa tiba2 ngerasa sendiri sama status buatan orang. Status negatifnya saja. Inteligensiku memaksaku harus membalas mereka balik. Aku tak mengerti.
Aku yang dulu memang tak terlalu ramah.
Mungkin, ibaratnya, ada personaku yang lain sudah membangun tembok di dalam hatiku. Tembok itu terbuat dari 'batu-batu' yang dilemparkan orang padaku. Ketimbang aku merasakan sakit dan lebih sakit, maka aku harus berlindung dengan memanfaatkan 'batu-batu' itu. Batu-batu kesakitan itu, sehingga aku tidak perlu merasakan sakit yang sama.
Persona itu berhasil membangun tembok, tapi sebenarnya masih banyak celah yang kosong. Celah itu membantuku 'melihat ke luar'- melihat bahwa tembok ini sudah terlalu menutupiku. Tembok ini kuat dan tinggi, walau ada celahnya. Tembok ini punya pintu, dan hanya orang-orang tertentu yang kuijinkan masuk melalui pintu ini.
Aku merasa terlalu punya banyak persona, karena pengalaman hidupku yang tidak menyenangkan buatku.
Sedari kecil, aku membuat diriku adalah tipe orang yang 'leave me alone', 'dont come any closer' , 'dont smile at me! i dont like you, you know.' , and 'let me live peacefully'
Sedari kecil, aku membuat diriku adalah tipe orang yang paling anti sama orang-orang bodoh. Blog, aku bisa yakinkan dirimu, aku tak bodoh. Aku selalu berteriak bahwa aku bodoh kalau egoku menguasaiku.
Lucu ya, ada ego yang seperti itu.//
Blog, aku tiba2 teringat, kisah sedihku waktu SMP.
Waktu itu sedang pelajaran olahraga, dan kelasku bermain voli.
Sebagai murid yang baik dan pemain yang tidak handal2 sekali, saya ditaruh kedepan. Kau tau aku ditaruh didepan sebagai service, karena tubuhku yang tambun, orang memanfaatkanku untuk itu. Ok, aku yang merasa diperlakukan seperti itu.
Suatu ketika aku merasa kakiku tidak bisa kugerakkan, ketika itu pula bertepatan waktu olahraga sudah habis. Kau tau, blog, aku terduduk karena aku merasakan kakiku benar2 sakit, dan aku tak bisa menggunakannya. Pas aku mau jalan, tiba2 sakit begitu saja. Ahh sepertinya aku pernah menceritakan ini padamu...
*blog, seandainya kau melihatku, seandainya kau punya mata, kau akan tau bagaimana keadanku ketika menulis ini. Aku mengetik tanpa berpikir lagi. Ga pake lama-lamaan mikir*
Kau tau, blog, tak ada satupun yang menolongku, mencoba membantuku. Dan, iya, aku ingat temanku yang bernama Irawan, dialah orang yang kumintakan tolong, karena dia yang lewat didepanku. Dia tidak menolongku karena dia sedang sibuk. Dia gila. Sekarang aku benar-benar harus menulis, 'Irawan monyet!' . Sesibuk apakah dia tidak khawatir melihat ada orang yg tiba2 duduk sendirian di tengah lapangan. Padahal aku udh bilang- pake kata 'tolong', dia bilang dia sibuk. Kampret bukan?! Sekarang aku sudah tau dia dimana, kuharap dia mati. Kalopun ternyata dia lebih sukses hidupnya dr padaku, kuharap dia mati.
*Maaf Tuhan aku menyumpahinya. Tiba2 aku merasa kesal dengan masa lalu yang itu..*
Kuharap dia mati. Atau setidaknya saat ini, dia merasa kakinya sakit, dan dia mati ditempat.
Blog, dan Tuhan Yang Aku Kenal...kalian tahu, susah untuk memaafkan masa lalu. Mungkin apa karena aku salah prinsip, iya aku pikir 'Aku hanya akan melupakan ini..'. Aku masih ingin merasakan kedagingan dan ntah mengapa aku membiarkan aku merasa kedagingan untuk mengingat masa lalu. Momen dimana aku merasa ditinggalkan, diperlalukan tidak baik, momen yang jahat, momen yang membuatku tak nyaman. Momen itu selalu ada di otakku, sebagaimanapun aku selalu berdoa supaya aku bisa memaafkan masa lalu- memaafkan orang-orang dimasa laluku.
Bahkan keluargaku, keluarga besarku.
Bahkan ibuku, kakakku.
Dan kini, bapakku.
Aku tau aku menyakiti Tuhan, tapi aku juga tak pernah bisa memaksakan diriku untuk tidak marah-marah ke Tuhan.
Tuhan, aku masih sangat percaya pada diriMu. Tapi kenapa hanya, orang-orang bodoh, orang-orang yang tolol, yang hanya bisa merepotkan, yang tidak membuatku nyaman, yang harus kau berikan di sekitarku?
Tuhan, taukah kau, untuk diet saja, kita harus ... *ahh blog, ini yang paling ku tak suka dengan membawa Tuhan dalam amarahku. Aku selalu merasa dipersalahkan, aku selalu merasa berdosa. Tiba-tiba Tuhan memberikan kemampuan pada otakku untuk mengingat bahwa apa yang kupertanyakan sudah ada jawabannya, sudah pernah dijawab.*
Tuhan, aku percaya Dirimu ada.
Tuhan, aku percaya Kau kuat dan Kau sangat-sangat keren.
Tuhan, aku tak tau apakah imanku cukup kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar